BAB I
Terumbu Karang
Pengenalan Terumbu Karang
Terumbu karang adalah ekosistem maritim yang unik, kompleks dan khas, terdapat di wilayah tropis dan subtropis, dibentuk oleh komunitas binatang karang selama ratusan tahun. Secara geomorfologis, terumbu karang dapat berbentuk karang tepi (fringing reef), karang penghalang ( barrier reef) dan karang cincin (atoll),serta karang datar/takat (platform reef/patch reef) Bentuk wilayah terumbu karang, pada umumnya di wilayah laut yang sangat dangkal, dan pada umumnya pada pantai dan dekat pantai. Sebaran terumbu karang terdapat pada wilayah kepulauan atau pulau-pulau kecil dengan curah hujan yang relatif rendah, ataupun pantai pulau besar yang jauh dari muara sungai delta dan pantai berlumpur.
Sebagai ekosistem yang khas dan terletak di daerah tropis, ekosistem terumbu karang memiliki produktivitas yang cukup tinggi sehingga keanekaragaman biota yang ada di dalamnya cukup besar. Biota terpenting dalam suatu karang adalah hewan karang batu (stony coral) yaitu hewan yang tergolong scelactenia yang kerangkanya terbuat dari kapur.
Menurut Nybakken (1988), koloni karang adalah kumpulan dari berjuta-juta polip penghasil bahan kapur (CaCO3) yang memiliki kerangka luar yang disebut koralit. Pada koralit terdapat septum-septum yang berbentuk sekat-sekat yang dijadikan acuan dalam penentuan jenis karang. Polip karang mempunyai mulut yang terletak di bagian atas dan juga berfungsi sebagai dubur, tentakel-tentakel yang digunakan untuk menangkap mangsanya serta untuk membersihkan tubuh. Tubuh polip karang terdiri dari dua lapisan yaitu epidermis dan endodermis, yang dipisahkan oleh lapisan mesoglea. Dalam lapisan endodermis, hidup simbion alga bersel satu yang disebut zooxanthella, yang dapat menghasilkan zat organik melalui proses fotosintesis yang kemudian sebagian ditranslokasikan ke jaringan karang. Makanan yang masuk dicerna oleh filamen khusus (mesenteri) dan sisa makanan dikeluarkan melalui mulut. Karang hidup berasosiasi dengan biota lainnya. Dalam kehidupan berasosiasi ini karang berperan sebagai produsen sekaligus sebagai konsumen. Hal tersebut disebabkan karena karang bersimbiosis dengan zooxanthellae yang menghasilkan bahan organik, disamping itu karang juga memakan plankton untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Proses perkembangbiakan karang secara vegetatif dilakukan dengan cara membentuk tunas baru. Pertunasan dibedakan menjadi pertunasan intratentakuler yaitu pembentukan individu baru dalam individu lama serta pertunasan ekstratentakuler yaitu pembentukan individu baru di luar individu lama.
Klasifikasi karang yang merupakan hewan tanpa bertulang belakang (avertebrata) adalah sebagai berikut (Veron, 1986) :
Phylum : Coelenterata (Cnidaria)
Kelas : Anthozoa
Ordo : Scleractinia (Madreporaria)
Famili :
1. Acroporidae
Genus : Acropora, Astreopora, Anacropora, Montiopora.
2. Agariciidae
Genus : Coeloseris, Gardineroseris, Leptoseris, Pachyseris,
Pavona.
3. Astrocoeniidae
Genus : Stylocoeniella
Pedoman Penangkaran/Transplantasi Karang Hias Yang diperdagangkan, 2007. 5
4. Pocilloporidae
Genus : Pocillopora, Palauastrea, Stylophora, Seriatopora,
Madracis.
5. Poritidae
Genus : Alveopora, Goniopora, Porites, Stylastrea.
6. Siderastreidae
Genus : Coscinaraea, Psammocora, Pseudosiderastrea,
Siderastrea.
7. Fungiidae
Genus : Ctenactis, Cycloseris, Fungia, Halomitra, Heliofungia, Herpolitha, Lithophyllon, Podabacea, Polyphylla, Sandalolitha, Zoopilus.
8. Oculinidae
Genus : Archelia, Galaxea.
9. Pectinidae
Genus : Echinophyllia, Mycedium, Oxypora, Pectinia.
10. Mussidae
Genus : Acanthastrea, Australomussa, Blastomussa, Cynarina, Lobophyllia, Scolymia, Symphyllia.
11. Merulinidae
Genus : Boninastrea, Clavarina, Hydnophora, Merulina, Paraclavarina, Scapophyllia.
12. Faviidae
Genus : Favites, Favia, Barabattoia, Caulastrea, Cyphastrea, Goniastrea, Diploastrea, Leptoria, Leptastrea, Montastrea, Moseleya, Oulastrea, Oulophyllia, Platygyra, Plesiastrea.
13. Dendrophylliidae
Genus : Dendrophyllia, Tubastrea, Turbinaria, Heterosammia.
14. Caryophylliidae
Genus : Catalophyllia, Euphyllia, Physogyra, Plerogyra, Neomenzophyllia.
15. Trachypylliidae
Genus : Trachyphyllia, Welsophyllia.
Tipe Karang Berdasarkan Morfologi
No. | Tipe Karang | Morfologi | Contoh |
1. | Tipe bercabang (branching) | Memiliki cabang dengan ukuran cabang lebih panjang dibandingkan dengan ketebalan atau diameter yang dimilikinya. | ![]() |
2. | Tipe padat (massive) | Memiliki koloni yang keras dan umumnya berbentuk membulat, permukaannya halus dan padat. Ukurannya bervariasi mulai dari sebesar telur sampai sebesar ukuran rumah | ![]() |
3. | Tipe kerak (encrusting) | Karang tumbuh merambat dan menutupi permukaan dasar terumbu, memiliki permukaan kasar dan keras serta lubang-lubang kecil. | ![]() |
4. | Tipe meja (tabulate) | Karang tumbuh membentuk seperti menyerupai meja dengan permukaan lebar dan datar serta ditopang oleh semacam tiang penyangga yang merupakan bagian dari koloninya | ![]() |
5. | Tipe daun (foliose) | Karang tumbuh membentuk lembaran-lembaran yang menonjol pada dasar terumbu, berukuran kecil dan membentuk lipatan-lipatan melingkar | ![]() |
Tipe jamur (mushroom) | Karang terdiri dari satu buah polip yang berbentuk oval dan tampak seperti jamur, memiliki banyak septa seperti punggung bukit yang beralur dari tepi ke pusat | ![]() |
Habitat terumbu karang umumnya di pulau-pulau yang memiliki perairan pantai yang jernih, kadar oksigen tinggi, bebas dari sedimen dan polusi serta bebas limpasan air tawar yang berlebihan. Lebih dari 95% pulau-pulau Indonesia dikelilingi oleh terumbu karang. Penyebaran terumbu karang pada umumnya dapat dijumpai pada perairan yang dibatasi oleh permukaan yang mempunyai isoterm (200C). Terumbu karang biasanya berasosiasi dengan pulau-pulau kecil dan sedang. Pulau-pulau yang lebih besar dan pantai benua kurang menunjang untuk kehidupan karang, karena tingginya sedimentasi, kekeruhan dan salinitas rendah yang diakibatkan oleh adanya aliran-aliran sungai ke laut. Pulau-pulau yang jauh dari pantai dan terpencil menunjang terumbu dengan baik dan meluas. Sebaran terumbu karang di Indonesia diwakili dengan baik di sepanjang pantai barat Sumatera kepulauan indonesia, Kawasan Timur Indonesia dan pantai selatan Jawa.
Faktor lingkungan
Faktor-faktor lingkungan yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup karang antara lain :
1. Suhu
Suhu paling optimal bagi pertumbuhan karang berkisar antara 26 – 300C.
2. Cahaya
Intensitas cahaya sangat mempengaruhi kehidupan karang yaitu pada proses fotosintesa Zooxanthella yang produknya kemudian disumbangkan ke polip karang.
3. Kekeruhan air
Kekeruhan akan menyebabkan terhambatnya intensitas cahaya yang masuk ke dalam air, sehingga mengganggu proses fotosintesa zooxanthella.
4. Salinitas
Salinitas mempengaruhi kehidupan karang, karena adanya tekanan osmosis ada jaringan hidup. Salinitas optimum bagi kehidupan karang berkisar antara 30-35 ‰.
5. Substrat
Planula karang membutuhkan substrat yang keras dan bersih dari lumpur. Substrat ini berperan sebagai tempat melekatnya planula karang yang kemudian tumbuh menjadi karang dan membentuk komunitas yang kokoh.
6. Pergerakan massa air
Pergerakan massa air antara lain berupa arus dan atau gelombang penting untuk transportasi zat hara, larva, bahan sedimen dan oksigen. Selain itu arus dan atau gelombang dapat membersihkan polip karang dan kotoran yang menempel. Itulah sebabnya karang yang hidup di daerah berombak dan atau ber-arus kuat lebih berkembang dibanding daerah yang tenang dan terlindung
Fungsi Terumbu Karang
Beberapa peran penting bagi ekosistem ini adalah: peran dari segi estetika, sebagai pelindung fisik, dan sebagai produk yang menghasilkan nilai ekonomi. Dari segi estetika terumbu karang dengan menampilkan pemandangan yang sangat indah, jarang dapat ditandingi oleh ekosistem lainnya.
Dengan demikian terumbu karang memiliki nilai penting untuk mendukung suatu habitat seperti pulau dan daratan. Disamping itu pula, terumbu karang berperan sebagai pelindung fisik terhadap pantai. Kerusakan terumbu karang akan mengurangi kemampuan karang untuk dapat berperan dalam memberikan perlindungan. Terumbu karang juga sebagai sumber ekonomi penting karena menghasilkan berbagai jenis ikan karang, udang karang, alga, teripang, kerang mutiara dan sebagainya. Ekosistem ini memberikan tempat perlindungan dan tempat berkembang biak bagi berbagai ekosistem karang. Terumbu karang memiliki peran utama sebagai habitat (tempat tinggal), tempat mencari makan (feeding ground), tempat asuhan dan pembesaran (nursery ground), tempat pemijahan (spawning ground) bagi berbagai jenis biota laut yang hidup di terumbu karang atau sekitarnya. Berbagai manfaat ekonomi dan jasa-jasa lingkungan merupakan nilai penting bagi ekosistem terumbu karang.
Akan tetapi sangat ironis, dimana permasalahan faktual yang terjadi bahwa kondisi terumbu karang sudah pada tingkat yang sangat menghawatirkan dimana telah terjadi kerusakan secara besar-besaran.Kerusakan ini banyak terjadi pada masa lampau, sebagai akibat dari aktifitas masyarakat yang kurang memperhatikan lingkungan. Seiring dengan membaiknya kesadaran masyarakat akan pentingnya terumbu karang, aktifitas perusakan terhadap terumbu karang juga menurun. Walaupun demikian pada kenyataannya kondisi terumbu karang di Indonesia telah terlanjur mengalami kerusakan dalam areal yang luas.Untuk dapat memulihkan kondisisi terumbu karang, saat ini telah dikenal banyak metode salah satu diantaranya adalah metode transplantasi karang.
BAB II
Transplantasi Terumbu karang
Pengenalan Transplantasi Terumbu Karang
Transplantasi karang merupakan upaya pencangkokan atau pemotongan karang hidup untuk ditanam ditempat lain atau ditempat yang karangnya telah rusak, sebagai upaya rehabilitasi. Saat ini transplantasi karang juga telah dikembangkan lebih jauh untuk mendukung pemanfaatan yang berkelanjutan. Bentuk pemanfaatan transplantasi karang atara lain untuk mengembalikan fungsi ekosistem karang yang rusak sehingga dapat mendukung ketersediaan jumlah populasi ikan karang di alam. Transplantasi karang juga dirnanfaatkan untuk rnembuat lokasi penyelaman (dive spot) menjadi lebih indah dan menarik sehingga dapat mendorong kenaikan jumlah wisatawan. Selain itu transplantasi karang juga dirnanfaatkan untuk memperbanyak jumlah indukan dan anakan karang yang laku dipasarkan sehingga dapat mendukung perdagangan karang Was, sesuai peraturan yang berlaku.
Pengembangan transplantasi karang yang telah dilakukan adalah menggunakan teknik kombinasi antara rangka besi, jaring dan substrat, Teknik ini telah dilakukan di beberapa lokasi, misalnya di kawasan konservasi laut Kabupaten Berau (2007), Kabupaten Kotabaru (2007), Kabupaten Ciamis (2007) dan Kabupaten Muna (2007). Perturnbuhan karang hasil transplantasi berkisar antara 6-24 cm/bulan. Pemilihan lokasi, jenis karang yang ditransplantasi, kesiapan masyarakat pengelola dan kualitas perairan, merupakan kunci keberhasilan transplantasi karang. Telah pula dicoba teknik transplantasi karang menggunakan substrat semen, namun tidak menggunakan rangka besi dan jaring, sebagaimana dilakukan di Ciamis (2008).
Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana yang diperlukan dalam transplantasi antara lain :
1. Bak penampungan untuk aklimatisasi dengan jumlah sesuai yang diperlukan;
2. Tempat untuk bekerja baik di laut maupun di darat;
3. Sarana transportasi (darat/laut) dan handling;
4. Peralatan transplantasi;
5. Peralatan untuk pembersihan;
6. Peralatan selam/peralatan dasar;
7. Rak/meja transplantasi untuk induk dan anakan serta perlengkapan lainnya seperti jaring dan tali pengikat;
8. Substrat dasar untuk transplantasi.
Pengetahuan Teknik Transplantasi Karang
Pengetahuan yang diperlukan untuk keberhasilan kegiatan transplantasi karang antara lain :
1. Lingkungan karang;
2. Teknik transplantasi;
3. Administrasi dan perijinan.
Persiapan Teknis Transplantasi Karang
a. Bibit Karang
Jenis karang yang digunakan dalam kegiatan transplantasi, yaitu jenis karang yang hidup dan tersedia di masing-masing lokasi kegiatan. Berdasarkan data inventarisasi DKP (2002) beberapa alternatif jenis karang tersebut antara lain : Acrophora tenuis; A. formosa; A. hyancinthus; A, difaricata; A. nasuta; A. yongei; A. digitifera; dan A.glauca.
Pelaksanaan kegiatan transplantasi karang baik untuk pemulihan kembali terumbu karang yang telah rusak, untuk pemanfaatan terumbu karang secara lestari (perdagangan karang hias), untuk pengembangan wisata bahari maupun untuk menunjang kegiatan kegiatan penelitian selalu diawali dengan pembuatan media pembibitan transplantasi karang/nursery ground. Kemudian dilanjutkan dengan penyediaan bibit, dan diakhiri dengan penebaran anakan hasil transplantasi.
Perbedaan dari setiap kegiatan transplantasi terutama terletak pada jenis bibit yang dipakai. Jenis bibit yang dipakai untuk transplantasi perdagangan karang hias dipilih dari jenis-jenis karang yang masuk dalam daftar perdagangan karang hias. Untuk wisata bahari, jenis bibit yang dipakai berasal dari jenis-jenis yang memiliki penampilan warna dan bentuk yang indah serta aman disentuh (tidak menimbulkan gatal atau luka). Untuk pemulihan kembali lokasi terumbu karang yang telah rusak / rehabilitasi karang, jenis bibit yang dipakai dipilih dari jenis - jenis yang terancam punah dilokasi tersebut, pernah hidup di lokasi tersebut, dan tersedia sumber bibit yang memadai. Kegiatan transplantasi karang yang ditujukan untuk menunjang kegiatan kegiatan penelitian, sumber bibitnya disesuaikan dengan jenis-jenis karang yang akan diteliti.
b. Pembuatan Nursery Ground
Pada tahap ini dibuat nursery ground sebagai tempat penyiapan dan pembesaran bibit-bibit karang. Jumlah nursery ground yang dibuat untuk setiap kegiatan adalah sebanyak 50 unit dengan ukuran masing-masing 100 x 110 cm. Bentuk nursery ground adalah segi empat panjang. Nursery ground tersebut pada ujung-ujungnya terdapat kaki-kaki tegak lurus sepanjang 40 cm. Pada bagian atas rangka besi ditutup dengan jarring dengan mesh size 0,5 cm x 0,5 cm. Bahan dasar nursery ground adalah besi yang telah dicat anti karat dan dilengkapi dengan jarring poly etilen pada bagian atasnya. Untuk setiap nursery ground dipasang 12 buah substrat yang terbuat dari semen cor (campuran semen dan pasir dengan perbandingan 1:4), pada bagian tengah dipasang patok tiang setinggi 10 cm dan pada bagian tepinya dibuat 4 lubang di arah yang berbeda. Substrat ditata kedalam baris searah panjang nursery ground dengan jumlah sebanyak 4 baris dan 3. Pada setiap substrat diberi potongan karang ukuran 4 cm sampai 7 cm. Jumlah total keseluruhan karang yang ditransplantasi untuk setiap kegiatan adalah 600 buah.
c. Penyediaan Bibit
Penyediaan bibit karang dilakukan secara hati-hati dengan memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
a. Sistem perwakilan plot koloni diambil tidak lebih 1/8 bagian dari plot koloni
b. Tidak merusak koloni
c. Sesuai dengan MSY (potensi) di alam/lokasi.
d. Pengangkutan bibit dilakukan di dalam air dan dilaksanakan secara hati-hati
e. Diambil dari lokasi yang berdekatan dengan lokasi penempatan media pembibitan
f. Mempunyai kedalaman perairan yang sama dengan kedalaman penempatan media pembibitan
g. Dipilih dari jenis karang yang sehat dan mempunyai pertumbuhan cepat
Sedangkan cara pemotongan bibit karang dilakukan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Bibit karang dipotong dari induk yang besar, sehat dan mempunyai pertumbuhan yang cepat.
b. Bibit dipotong dengan panjang lebih kurang 7 cm dengan menggunakan alat pemotong karang yang sesuai.
c. Bibit diambil pada bagian tunas atau bagian termuda dari induk.
d. Volume pengambilan bibit dari induk tidak boleh melebihi 1 /8 bagian dari bagian induk sehingga tidak mengganggu pertumbuhan induk.
Pada pengikatan bibit pada substrat, perlu diperhatikan:
a. Pengikatan bibit dilakukan didalam air, dengan harapan karang yang ditransplantasi tidak/sedikit mengalami stres).
b. Pada pengikatan, bibit diikat seerat mungkin dengan menggunakan tali pancing atau klem plastik
c. Bagian bawah bibit menempel pada substrat dengan posisi tegak terikat erat dengan patok substrat.
d. Penebaran Bibit
Setelah anakan karang yang dipelihara dalam nursey ground berumur sekitar 3-12 bulan (tergantung jenis karang yang ditransplantasi) barulah dilakukan langkah berikutnya yang disesuaikan dengan tujuan kegiatan.
Untuk tujuan rehabilitasi, penelitian dan wisata bahari, maka anakan karang tersebut sudah dapat disebar di lokasi-lokasi yang diinginkan. Sedangkan untuk perdangan karang hias, maka anakan karang tesebut sudah siap untuk dipasarkan atau diekspor ke luar negeri.
Terumbu karang merupakan habitat sekaligus indikator dari keberadaan ikan di laut. Kerusakan terumbu karang menyebabkan tidak adanya ikan di suatu perairan. Kerusakan bisa disebabkan oleh terinjaknya karang oleh manusia, penggunaan jangkar kapal, dan gelombang air laut. Kegiatan transplantasi terumbu karang merupakan suatu cara untuk memperbaiki dan menumbuhkan karang baru sehingga habitat ikan tetap terjaga. Karang merupakan suatu hewan uniseluler yang hidup berkoloni membentuk polip, sehingga transplantasi merupakan suatu cara efektif untuk menumbuhkan terumbu karang, meski butuh waktu yang lama tetapi cara ini merupakan salah satu upaya konservasi yang perlu dilakukan dan disosialisasikan.
Media untuk transplantasi terumbu karang berbentuk kerucut dan berpipa, pemilihan media ini agar ikan-ikan masih dapat berenang bebas disekitar media tersebut, pipa yang dipasang berfungsi untuk mengikat karang kecil. Transpalantasi yang dilakukan meliputi pengecoran, penyusunan komposisi media, pencetakan media, dan pemasangan media transplantasi di laut. Waktu yang digunakan untuk membuat media transplantasi hanya memakan waktu 1-2 hari dan tergantung banyaknya pekerja maupun jumlah. Harapannya masyarakat memiliki kesadaran untuk melestarikan terumbu karang melalui transplantasi terumbu karang sehingga keindahan ekosistem tetap terjaga hingga masa depan. Dalam melakukan transplantasi terumbu karang banyak dibantu oleh Pak Dodent, pemilik Rubiah Tirta Divers dan pegawainya.
e. Pemilihan Lokasi Penangkaran/Transplantasi Karang
Beberapa kriteria yang dijadikan pertimbangan dalam pemilihan lokasi, antara lain
adalah :
1. Lokasi usaha transplantasi di luar kawasan konservasi dan di luar lokasi wisata;
2. Bukan merupakan daerah berlabuh dan jalur keluar masuknya kapal nelayan, dan daerah industri;
3. Lokasi merupakan habitat karang dan relatif terlindung dari gelombang;
4. Dasar perairan yang relatif datar dengan substrat pasir dan komunitas karang;
5. Tidak mengalami kekeringan saat air surut terendah;
6. Memiliki kualitas perairan yang sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan karang yang akan ditransplantasikan;
7. Di dalam habitat buatan dengan teknologi tertentu.
f. Cara Transplantasi Terumbu Karang
Pertama disiapkan media penanaman terumbu karang yang berupa cor-coran sedimen berbentuk kerucut. Media tersebut dapat dicetak di pantai dan di bagian tengah di pasang pipa PVC atau botol bekas. Fungsi pipa yang di pasang di bagian tengah tersebut adalah sebagai tempat untuk mengikat terumbu karang anakan yang akan ditumbuhkan. Bentuk kerucut berfungsi agar media dapat bertahan dari arus laut yang sangat kuat sehingga dapat tetap berdiri dan tidak mengganggu terumbu yang ditumbuhkan di media tersebut. Adapun fungsi lainnya adalah agar ketika penyusunan media menjadi blok-blok transplantasi terdapat ruang gerak bagi ikan-ikan. Sehingga ikan dapat memiliki tempat hidup, meskipun terumbu karang belum tumbuh.

Penanaman fragmen pertama karang dari alam

Penanaman fragmen kedua karang dari hasil transplantasi

(Substrat untuk transplantasi berupa cor-coran semen)
(Media transplantasi yang telah diatur menjadi suatu blok-blok transplantasi)
Langkah selanjutnya adalah pengikatan terumbu karang anakan di media transplantasi. Misalnya pada gambar di bawah dapat dilihat proses pengikatan salah satu jenis terumbu karang yaitu contoh: Acropora sp. sedang diikat di media transplantasi. Pengikatan dilakukan dengan menempelkaan terumbu karang di bagian pipa atau kaleng bekas dengan mengikat menggunakan kabel tip berwarna putih
(Proses pengikatan terumbu karang anakan pada medium transplantasi)
(Pengecekan ikatan terumbu karang anakan transplantasi)
(Contoh hasil pengikatan terumbu karang jenis Acropora sp. pada transplantasi)
Setelah semua media transplantasi telah diikat dengan terumbu karang yang ingin ditumbuhkan, maka media transplantasi tersebut dibiarkan dalam perairan laut selama lebih kurang 3-6 bulan agar terumbu karang anakan tersebut dapat tumbuh. Setelah beberapa bulan, terumbu karang yang ditransplantasi akan tumbuh dan ikan-ikan serta hewan laut lain dapat menjadikan daerah sekitar media transplantasi sebagai habitatnya yang baru, seperti terlihat pada gambar berikut ini.
(Terumbu karang transplantasi mulai tumbuh)
(Jenis ikan yang bermain di daerah terumbu karang hasil transplantasi)
Jika terumbu karang sudah tumbuh dengan baik dan mulai dewasa, ikan-ikan laut yang termasuk kategori ikan hias akan semakin banyak muncul dan terlihat sangat senang bermain di daerah terumbu karang hasil transplantasi tersebut. Jika terumbu karang sudah sangat dewasa dan tumbuh serta berkembang dengan sangat baik, maka ikan-ikan akan semakin banyak muncul dan jenis ikan yang muncul akan semakin beraneka ragam.
(Ikan-ikan menjadikan daerah terumbu karang hasil transplantasi sebagai habitat baru)
Pemeliharaan Transplantasi Karang
Kebersihan fragmen dan lingkungannya harus tetap terjaga untuk menekan angka kematian. Pelaku transplantasi karang wajib melakukan pencatatan, antara lain :
1. Jumlah dan jenis penanaman induk dan anakan karang (yang diliput dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Penanaman (contoh BAP pada lampiran 5);
2. Jumlah anakan karang yang dipanen;
3. Tingkat kematian induk dan anakan karang;
4. Pemantauan pertumbuhan karang dengan cara melakukan pengukuran seperti contoh pada gambar

Rencana Produksi dan Pemanenan Karang Hasil Transplantasi
1. Rencana Produksi
Anakan yang akan diperdagangkan (produksi) yang berupa jenis dan jumlah
yang akan dihasilkan oleh masing-masing unit usaha transplantasi dituangkan dalam rencana produksi. Rencana produksi didasarkan pada jumlah indukan yang diverifikasi oleh UPT KSDA setempat bersama ICRWG dan atau Perguruan Tinggi dan atau Asosiasi Kerang, Koral dan Ikan Hias Indonesia (AKKII) dengan memperhatikan laporan perkembangan usaha transplantasi karang setiap bulannya. Rencana produksi dikirim ke Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati dengan tembusan UPT KSDA setempat paling lambat pada minggu pertama bulan September tahun sebelumnya sebagai salah satu dasar penentuan kuota masing-masing unit usaha transplantasi.
2. Pemanenan
Unit usaha transplantasi yang akan melakukan pemanenan mengajukan permohonan kepada UPT KSDA setempat untuk dilakukan pemeriksaanpemanenan yang diliput dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) pemanenan karang. Jenis anakan yang dipanen disesuaikan dengan umur panen. Berikut ini merupakan tabel informasi mengenai jenis karang dan umur panennya :




Format Berita Acara Pemeriksaan Pemanenan Karang Hias Hasil Penangkaran/Transplantasi :


Pengemasan dan Pengangkutan Karang Hasil Transplantasi
Penanganan karang hasil transplantasi dari lapangan hingga ke penampungan harus diupayakan sedemikian rupa sehingga menekan tingkat kerusakan dan kematian karang. Tiap perusahaan yang akan mengedarkan hasil transplantasi harus memiliki sarana penampungan yang mencukupi untuk dapat melaksanakan pengemasan dan pengepakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
BAB III
Administrasi Transplantasi Karang Hias
Izin Usaha Transplantasi Karang Hias
Izin usaha dapat diberikan kepada perorangan, badan hukum, lembaga konservasi, dan koperasi. Tata cara untuk memproses izin usaha transplantasi karang hias, seperti pada gambar :
Keterangan :
1. Untuk proses izin di Balai Besar KSDA, proposal dan rekomendasi oleh Kepala Bidang Teknis KSDA, tembusan surat kepada Kepala Bidang KSDA Wilayah setempat;
2. Untuk proses izin di Balai KSDA, proposal dan rekomendasi oleh Kepala Seksi Konservasi Wilayah, tembusan surat kepada Kepala Seksi Konservasi Wilayah setempat

Laporan
Tata cara penyampaian laporan kegiatan transplantasi karang hias untuk
diperdagangkan adalah sebagai berikut :
1. Laporan Bulanan, disampaikan setiap bulan ke UPT KSDA setempat dengan tembusan kepada Dirjen PHKA c.q. Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati (format laporan bulanan pada lampiran 4).
2. Laporan Tahunan, disampaikan kepada UPT KSDA dengan tembusan Dirjen PHKA c.q. Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati.
Di dalam laporan tahunan dilaporkan sebagai berikut :
1. Jenis & jumlah yang ditransplantasi (induk dan anakan karang);
2. Jumlah/tingkat kematian;
3. Kendala yang dihadapi;
4. Penanaman jenis baru (jika ada);
5. Perkiraan produksi yang akan diperdagangkan untuk tahun berikutnya.
Kelayakan Usaha
1. Untuk mengetahui tingkat kelayakan unit usahatransplantasi karang hias agar dapat melakukan pemanfaatan hasil transplantasi didasarkan pada kajian yang dilakukan oleh tim audit penangkaran yaitu Pusat penelitian Oseanografi (P2O) - LIPI bersama Indonesian Coral Reef Working Group (ICRWG), atau lembaga audit independen yang dinilai mampu sesuai dengan ketentuan yang berlaku
2. Audit penangkaran dilakukan sebelum unit usaha transplantasi melakukan usulan produksi yang pertama yang akan diperdagangkan dan selanjutnya dievaluasi setiap 2 (dua) tahun.
Pengawasan dan Evaluasi
Pengawasan karang hias hasil transplantasi dilaksanakan oleh UPT KSDA setempat dimulai dari penanaman hingga pemanenan yang diliput dengan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Penanaman, dan BAP Pemanenan. Untuk keperluan peredaran koral hasil transplantasi di dalam negeri antar wilayah UPT KSDA harus diliput dengan Surat Angkut Tumbuhan dan Satwa Dalam Negeri (SATS-DN) yang diterbitkan oleh UPT KSDA setempat atau pejabat yang ditunjuk. Peredaran koral hasil transplantasi ke luar negeri berdasarkan ketentuan CITES harus memiliki Surat Angkut Tumbuhan dan Satwa Luar Negeri (SATS-LN) yang diterbitkan oleh Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati - Ditjen PHKA sebagai Management Authority.














Tidak ada komentar:
Posting Komentar